Pengantar dari si Empunya Blog "Mancing itu Sehat" dulu yaa..
Memancing (sekali lagi mancing ikan lho)termasuk olahraga dan hobi yang lebih mementingkan "perdamaian", persahabatan, keserasian dengan alam. Hebat kan? Olahraga mancing ini mampu memperlihatkan diri sebagai "jalan keluar" atau way out dari kemacetan psikis (kejiwaan) setiap individu manusia. Hebat lagi ya? Yang hebat bukan saya, dan bukan blog "Mancing itu Sehat" lho, tapi ya itu tadi si aktivitas memancing tersebut. Mungkin itulah sebabnya budaya memancing mampu menjawab "kerinduan" manusia terhadap misteri-misteri kesemestaan alam dan hidup itu sendiri. Hebat.. hebat..
Memancing dengan orientasi untuk mendukung kinerja konservasi laut adalah memancing dengan "format pengelolaan lingkungan". Artinya ya kurang-lebih, memancing ikan di laut dengan cara "seleksi" tidak bersifat massal. Tidak urakan lah! Jadi, saya anjurkan kepada para (oknum) mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta atau di Makassar yang hobinya berkelahi, tawuran (amit2lah wong sdh mahasiswa kok suka nawur!) supaya segera berganti hobinya itu, ke hobi mancing. Segera! Tapi ini ndak maksa lho, meskipun kalo nggak kepaksa ya kebangetan!
Memancing dengan orientasi untuk mendukung kinerja konservasi laut adalah memancing dengan "format pengelolaan lingkungan". Artinya ya kurang-lebih, memancing ikan di laut dengan cara "seleksi" tidak bersifat massal. Tidak urakan lah! Jadi, saya anjurkan kepada para (oknum) mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta atau di Makassar yang hobinya berkelahi, tawuran (amit2lah wong sdh mahasiswa kok suka nawur!) supaya segera berganti hobinya itu, ke hobi mancing. Segera! Tapi ini ndak maksa lho, meskipun kalo nggak kepaksa ya kebangetan!
Sekarang, Bab Mancing di Perairan Banyuwangi.
Perairan Banyuwangi (sebuah kabupaten terluas di Jatim), secara geografis cukup unik. Karena perairan lautnya terjadi oleh proses percampuran "massa" air Laut Jawa dan Samudera Hindia (di selat Bali). Pertemuan massa air ini memberikan pengaruh yang besar terhadap konten dan keberadaan ikan di Selat Bali. Menurut Deddy Bahtiar (artikelnya "Estimasi Densitas Ikan Pelagis pada Musim Barat di Perairan Selat Sunda dengan Sistem Akustik Bim Terbagi" via Jurnal Penelitian UNIB Vol. V No.14, 1999) dibuktikan secara hidroakustik bahwa "pertemuan" massa air dari laut Jawa dengan Samudera Hindia selalu memberikan kontribusi yang besar terhadap kwantitas ikan.
Lokasi pemancingan di sini belum dioptimalkan oleh para pemancing profesional (angler) lho. Padahal potensi perairan pemancingannya memiliki densitas atau sebaran ikan yang bervariatif. Potensi pemancingan dan wisata laut yang cukup prospektif di daerah Banyuwangi ini sepertinya terabaikan. Panduan atau pun peta petunjuk untuk menyinergiskan kinerja pemancingan secara konservasi(f) di perairan Blambangan ini sedikit sekali atau bahkan dapat dikatakan tidak ada.
Secara sederhana, maksudnya dengan kelengkapan sarana terbatas, saya bersama tim Lembaga Penelitian Universitas Jember, berulangkali hunting lokasi sejak tahun 2000 (mencari hotspot) pemancingan yang murah, nyaman, aman di sekitar perairan Banyuwangi. Dan kami menemukan lokasi di kawasan Donosuko, Kecamatan Kabat-Banyuwangi. Perairan ini terletak di Samudera Hindia. Jalan menuju lokasi mancing ditempuh selama 3 jam perjalanan mobil dari kota Jember, atau 1,5 jam dari kota Banyuwangi. Kondisi jalan rata-rata bagus dan mulus. Selama 5 hari berlayar-ria kami mendapatkan sejumlah kontribusi sebagai berikut:
1. Lokasi areal pemancingan di perairan Timur Banyuwangi (Donosuko) cukup ideal untuk pemancingan konservasif; hal ini didukung adanya tradisi yang sangat positif dari komunitas nelayan/masyarakat setempat yang melarang secara tegas (sanksi yang berat) terhadap para nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan bahan-bahan kimia dan listrik.
2. Tidak dijumpai penangkapan ikan yang bersifat massal; hal ini dibuktikan dengan keberadaan jaring (payang) yang relatif berukukuran kecil.
3. Densitas ikan di perairan Donosuko menunjukkan frekuensi yang tinggi pada waktu pagi hari (sekitar pukul 04.00-08.00 wib) dan pada sore hari/malam (sekitar pukul 16.00-20.00 wib) pada kedalaman 25-67 meter. Densitas ini bisa dikatakan merata hampir di seluruh wilayah perairan selat Bali (Watudodol, Meneng, Ketapang, Muncar, Plengkung). Pada pagi menjelang siang ikan cenderung berada pada kedalaman 25-46 meter, siang hari "kumpulan" ikan berada pada kedalaman 67-88 meter, kemudian menginjak pada sore hari ikan-ikan mulai "naik" kembali pada kedalaman 25-67 meter, dan pada malam hingga dini hari eksistensi ikan cenderung menyebar merata pada seluruh kolom air, sedangkan pada pagi hari ikan "turun" pada kedalaman 46-67 meter.
4. Dukungan sarana dan prasarana transportasi dan akomodasi (terutama di daerah tujuan pemancingan) cukup tersedia kendati masih sangat minim dan sederhana. Sedang dukungan yang berkaitan dengan peralatan, asesoris, suku cadang pemancingan tidak cukup tersedia di lokasi (termasuk piranti keselamatan memancing di tengah laut).
5. Sejumlah jenis ikan pancingan yang banyak ditemui di sini antara lain Kuwe Gerong (Giant Trevally atau Caranx ignobilis), Layaran (Pasific sailfish atau Istiophorus platypterus), Barakuda (Barracuda atau Shpyraena barracuda), Cakalang (Skipjack tuna atau Katsuwonus pelamis), Tenggiri (Tangguigue atau Scomberomorus commerson), Kakap merah (Lucanus argentimaculatus atau Lucanus malabaricus), Lemadang (Dolphinfish atau Coryphaena hippurus).
SEGITU DULU YA, MAAF FOTO DAN GAMBAR2NYA NYUSULLLL (tapi pasti akan saya lampirkan foto-fotonya kok...) salam mancing!
6 komentar:
mancing yang rame ikan kakap merah biasanya jam piro mas?
lho?????
pak kris, blognya menarik
oy pak, kalo bisa teliti juga tempat mancing yang ada di daerah mimbo. di daerah asembagus ketimur itu. ikannya enak lho pak......lya
pak saya kesulitan masukkan datanya ke dalam blog
lya
pak, saya sudah ambil fotonya.saya tidak tau email pk kris. gmn caranya saya kirimkan fotonya. tapi mungkin g terlalu bagus. soalnya d tempat saya sering mendung
Posting Komentar